Sepertinya
mereka belum kenal siapa aku sebenarnya, hanya aku, ayah ibuku, serta abangku
yang tahu. Terkadang aku pun merasakan keanehan yang ada pada diriku, seperti
waktu minggu lalu aku bersama mila sahabat kecilku berjalan melewati pepohonan
yang sangat lebat beberapa saat aku melihat seperti ada yang mengikutiku tetapi
saat aku mendekatinya tak ada seorangpun yang berada di sana. Sama dengan
kejadian tadi malam, tapi ahhh sudahlah mungkin ini hanya ilusi ku sesaat, mungkin
karena aku lelah serta letih karena seharian berlatih bela diri di kampus.
Namaku
qafiya nurul jannah, aku sering di panggil dengan sebutan qafiya. Aku merasa beruntung mempunyai nama yang
sangat bagus ini “ yang pandai menghormati dan ahli surga”. Walaupun orang
tuaku tidak begitu pandai dalam agama tetapi mereka selalu memberikan nama yang
terbaik untuk anak-anaknya termasuk untuk aku dan abangku. Aku merupakan anak
terakhir dari 2 bersaudara, ya begitulah aku beruntung mempunyai abang tetapi
terkadang aku juga ingin mempunyai adik. Aku bersekolah di perguruan tinggi
swasta di semarang .Saat ini aku duduk di bangku kuliah semester 2 sedangkan
abangku faqih khairy rahman atau sering aku panggil bang faqih kini semester 8
atau lebih tepatnya lagi menyelesaikan skripsinya. seperti namanya bang faqih
terhadapku sangat penyayang, jika dia pergi pasti aku selalu di ajak.
Alunan
suara burung yang begitu merdu dan suara angin yang begitu lembut membuat hati
ini berasa damai. Waktu menunjukan pukul 04.15, ini waktunya untuk persiapan
sholat subuh. Ku buka jendela kamarku, ku helakan nafas dan menikmati
pemandangan kabut di pagi hari “ ahhh sungguh indah ciptaanmu ya allah, sejuk
dan damai”. Tak bisa aku bayangkan jika aku bertempat tinggal di kota
metropolitan yang penuh dengan asap dan debu. *tok...tok...tok...* kudengar ada
seseorang mengetuk pintu kamarku.
“dek, ayo sholat
dulu”.
Oh, ternyata
bang faqih.
“oh iya bang,
sebentar”.
Aku bergegas
keluar kamar. Kami memang selalu melakukan sholat berjama’ah walaupun ayah
harus berangkat jam setengah lima tetapi selalu menyempatkan untuk sholat
berjamaah di rumah.
Matahari kini semakin
menampakan dirinya cahaya yang cerah seperti ku lihat secerah wajah ayah,ibu
dan abang faqih. Aku dan bang faqih berpamitan untuk pergi kuliah karena
kebetulan jadwal kuliahku hari ini mulai dari jam 7 , sedangkan bang faqih
mencari inspirasi untuk skripsinya.
Teriknya matahari ini menyengat
sampai ke dalam kulit *wah cuciannya cepet kering nih, hehhe* lamunanku.
Setelah setengah hari kuliah siang ini ada rapat ROHIS, karena bulan depan akan
di adakannya ROHIS antar SMA/MA, SMK dan kami yang mengadakan acara tersebut.
Sejujurnya aku takut ikut organisasi ini karena banyak yang bilang katanya bisa
di cuci otak lah itu lah tetapi karena di suruh oleh abang faqih dan akhirnya
aku mengikuti ini. Menurutku kegiatan islami yang sangat nyaman dan aku pikir orang-orang
salah pengertian jika organisasi ini negatif, selama setengah tahun ini aku
merasa asik-asik saja malahan nambah ilmu agama. Aku cukup terkenal di kampus
ini, bagaimana tidak? Bang faqih adalah mantan ketua rohis ini jadi tidak heran
jika aku cukup di kenal banyak orang termasuk dosen.
Rapat kali ini segera di mulai, aku
duduk di barisan depan deretan para panitia lomba tepatnya di sebelah kak
hasan. Dari semua panitia hanya aku yang dari semester 2, aku tidak begitu
paham kenapa aku di tunjuk sebagai sekretaris, tetapi kak hasan pernah
bercerita kepadaku bahwa aku memang pantas sebagai pengurus, karena aktif,
tulisannya rapi. Selama rapat berlangsung aku mencatat apa yang harus aku
lakukan sebagaimana tugas dan kewajibanku. Jam menunjukan pukul 14.30, 2 jam
sudah rapat berlangsung. Kak hasan menutup rapat sore ini.
“hufttt
syukurlah tidak ada kendala yang cukup besar untuk kegiatan yang akan datang
ini”. Kak hasan berbicara sambil menghela nafas.
“iya yah kak,
alhmdulilah”. Sahutku.
“eh eh fiya...”.
Kak hasan
menarik bangkunya dan menaruhkan di hadapanku.
“hah??eh iya kak
kenapa?”. Aku sedikit kaget dengan kelakuan kak hasan.
“apa kamu tau?
Tadi kak rizky liatin kamu terus loh..”. menatap tajam mataku.
“hah? Kak rizky?
Siapa kak?”.tanyaku.
“tadi dia duduk
di sebelah pojok kiri barisan ke 2 dari belakang”.jelasnya.
“gk tau kak, gk
liat, kan tadi yang berangkat juga banyak banget , buktinya ada 6 baris”.
“dia temen satu
kelas kaka, dia pernah bilang katanya naksir sama kamu, hehe”.
“hahha, ah kak
hasan mah ngaco”.
Aku tertawa
terbahak-bahak mendengar apa yang dia katakan kepadaku.
Setelah rapat
berakhir aku bergegas untuk berkemas pulang.
Kini langit menggelap seperti malam hari
Akankah engkau menangis sore ini?
Ku tatap langit itu
Ku rasakan Angin yang begitu kencang membuat hati
ini resah
Resah karena
bagaimana dengan nasib cucianku di rumah??
Hahhah ah
sudahlah...
*assalamu’alaikum...
assalamu’alaikum...assalamu’alaikum...* suara phonselku.
“hallo
asalamu’alaikum”.
“wa’alaikumsalam”.
“dek, kamu di
mana?”. Bang faqih
“ini adek mau
pulang bang, masih di kampus, abang mau jemput?”.tanyaku.
“aduh maaf dek,
abang gak bisa, masih ada urusan nanti abang ceritain deh, tapi tenang tadi
abang minta hasan suruh anter adek kerumah”. Jelasnya.
“kak hasan tah bang?
Apa enggk merepotkan? Adek bisa pulang sendiri koq”.
“enggak, tunggu
ajah di situ sebentar lagi juga hasan dateng, ok, ya udah assalamu’alaikum”.
*tut.tut.tut*
Malam ini di temani dengan hujan ,
rintikan air yang mengalir di sepanjang jalan. Ku langkahkan kaki ini untuk
beranjak dekat jendela. Hujan pasti akan membawa berkah. Terlintas dalam
pikiranku mengenai kata yang di sampaikan oleh kak hasan, kak rizky menyukaiku?
Tapi apa benar , jika benar akupun tak begitu paham dengan dia, dengan jumlah anggota
sebanyak itu aku tidak bisa menghafal. Aku ingin suatu saat nanti bisa menikah
dengan lelaki yang baik, soleh dan tentunya tanggung jawab. Selamat malam ibu,
selamat malam ayah, selamat malam bang faqih, selamat malam jodohku siapapun
itu, selamat malam dunia, selamat malam semuanya.
Kuliah siang itu kadang bikin malas.
Bagaimana tidak? Kalau lagi panas, behhh bikin ngantuk, hehe. *qafiyaaaaa...*
ku mendengar seseorang memanggilku. *huh..huhh.huhh,emmm ahh* menghela nafas.
“la, kamu kenapa
lari- lari seperti itu?”
“hehe, ini ada
titipan proposal untuk kak faqih dari kaka ku ka rizky, kata ka rizky suruh di
cek in ,udah bener apa belum gitu. Kemaren sih niatnya mau kerumahmu tapi hujan
jadi gak jadi deh.”jelas lulu.
“oh oh iya lu,
eh ngomong-ngomong kamu punya kaka tah? Aku pikir kamu anak tunggal?”. Tanyaku.
“iya aku memang
anak tunggal, kak rizky itu keponakanku, eh udah dulu ya, bye”.
Kak rizky? Kaka
nya lulu? Baru tau aku? Tapi, kak rizky yang di bilang kak hasan bukan yah? Ah
entahlah.
Alhamdulilah kuliah hari ini lancar
dan pulang sore lagi karena tadi ada sedikit masalah di sekre Rohis. Saat aku
beranjak pulang kak hasan memanggilku dan memperkenalkan aku dan kak rizky. Aku
kaget dan aku tersipu malu sebenarnya, muka merahku muncul dihadapannya. Kami
sedikit berbincang- bincang mengenai kegiatan lomba yang akan di laksanakan
bulan depan. Kesan pertama, kak rizky itu manis, tinggi, kuning langsat, baik,
insyallah sholeh, enak di ajak ngobrol. Lagi-lagi bang faqih tidak bisa
menjemputku sore ini, untung saja kak rizky menawarkan diri untuk mengajaku
pulang bareng.
Bintang yang berkerlap-kerlip di
sana , kenapa engkau sendiri. Apakah kau sedang mencari pendamping untuk
menemanimu di sana?. Ku pejamkan mata ini , berharap esok kan lebih indah dan
lebih berkah. Hari demi hari berjalan begitu cepat, lomba pun sudah terlaksana
dengan lancar, walaupun ada beberapa kekacauan di bagian dokumentasi tetapi
bisa terselesaikan.
Seperti biasanya
sehabis kuliah aku menghampiri sekre yang penuh warna , kasih sayang dan
solidaritas. Entah kenapa hari itu badan seperti akan ambruk dan kaki ini berat
untuk melangkah, wajah pucat. *bruukkkk* aku sudah tidak sadarkan diri. Setelah
kira-kira 15 menit aku tak sadarkan diri, ku buka mata ini pelan-pelan, tampak
samar-samar seperti kak rizky, seperti bang faqih atau yang lainnya itu tidak
terlalu jelas.
“dek , kamu
sudah sadar?”.seseorang menanyakan padaku.
Ku coba
memperjelas pandanganku, dan aku sangat paham ini suara bang faqih.
“emmm... iya
bang”.jawabku dengan lesu. Jujur saja aku pusing dan lemas.
“tadi rizky
memberitahu ke abang kalau kamu pingsan jadi abang langsung ke kampus, tenang
ajah ibu sama ayah belum tau koq”. Jelasnya.
Aku baru sadar
ternyata aku sudah merasakan keanehan-keanehan yang dulu sering aku alami. Aku
kembali terdiam, menikmati sakit yang sedang ku derita ini. Perkataan bang
faqih membuat aku semakin penasaran dengan kak rizky. Jika dia yang membawaku
kenapa dia tidak ada di saat aku terbangun? Apakah dia sibuk? Apa dia malu?.
Ku beranikan
diri untuk menanyakan ke pada kak rizky dan ternyata benar ternyata sibuk ada
meeting dadakan. Dia juga sempat menelpon bang faqih, dan meminta maaf karena
tidak bisa menemaniku.
Kak rizky , kau
membuat aku merasa nyaman dan tenang. Aku bahagia jika berada di sampingmu.
Semenjak kejadian itu aku sering
berhubungan sama kak rizky. Sampe-sampe kemarin dia mengirim surat padaku.
Sedikit percaya dan tidak percaya ternyata apa yang aku rasakan dengan kak
rizky itu sama.
Wahai gadis kecilku
Ku liat matamu begitu indah
Wajahmu memancarkan cahaya cinta
Aku ingin mencintai setulus hatiku
Ku harapkan masih ada tempat untuk bersinggah
Bersinggah dalam kehidupan cinta
Saling mencintai akan lebih indah dari apapun
Agar cinta ini bersemi barokah
Izinkan aku untuk mendatangi orang tua mu
Untuk segera halal menjadi imam mu
Apakah dia ingin
segera meminangku? Tetapi aku terlalu muda, masih semester 2 , umurku juga baru
18 tahun. Jujur saja aku juga sayang sama kak rizky, walaupun kadang aku
menyusahkannya tetapi dia tidak pernah mengeluh.
Ka rizky merupakan salah satu
teman terdekat bang faqih sekaligus pernah menjabat sebagai wakil ketua rohis
jadi tidak ada salahnya jika aku bercerita kepada bang faqih. Tanpa aku sadari
ternyata kak rizky selalu menanyakanku kepada bang faqih, dan dia juga
menyetujui jika aku bersamanya. Sungguh aku tersanjung. Ku dengar kedua orang
tuaku juga menyetujui itu. Tetapi untuk menikah sekarang aku belum siap,
sangat-sangat belum siap, karena aku ingin lulus terlebih dahulu dan aku ingin
melihat orang tuaku tersenyum karena keberhasilanku.
Wahai pangeran impian
Sudah ku terima suratmu
Aku ingin menggapai impian
Terlebih dahulu
Kau bagaikan air yang sangat jernih
Yang mengalir di aliran sungai
Aku yakin engkau mengerti
Jika engkau berkenan
Tunggulah aku sampai aku lulus nanti
3 tahun lagi jika engkau mau
Jika tidak carilah bidadari yang bisa mengisi hatimu
kembali
Gadis kecilku
Kau telah merubah hidupku
Kau selalu ada untuk ku
Hanya engkau yang ku cintai
Ku ingin kau menjadi permaisuriku
3 tahun yang akan datang aku akan menemui kedua
orangtuamu
Aku janji gadisku
Setiap hari aku memikirkannya, 3
tahun lagi aku akan di lamar, jika dia melakukan apa yang dia janjikan berarti
dia orang yang bisa di percaya dan bertanggung jawab tanpa adanya dusta. Kini
akan menjadi cinta yang barokah.
*3 tahun yang
lalu
Hey
bintang kini engkau sudah menemukan pendampingmu. Coba kau lihat di
sekelilingmu begitu banyak yang menghampirimu. Malam yang indah,
bintang-bintang bertaburan. Selamat malam ayah, selamat malam ibu, selamat
malam bang faqih, selamat malam dunia , selamat malam calon pendamping hidup,
ku tunggu hari esok yang penuh keberkahan. Wisuda menghampiriku.
Detik-detik aku di wisuda ,sungguh
hati ini berdebar dengan kencang, rasa senang, sedih, takut, bahagia semua jadi
satu. ku lihat kedua orang tuaku, bang faqih bersama istri dan buah hatinya
tersenyum lebar mengarahku. Ku bersyukur atas apa yang Allah kasihkan kepadaku,
di samping ayah ku lihat calon pendampingku berdiri tegap senyum manis kepadaku.
Acara wisuda akan segera selesai. Tiba-tiba kak rizky naik ke atas panggung.
Semua bergemuruh karena bingung dengan perlakuan kak rizky, aku sempatkan
menengok ke arah kak faqih, dia hanya menggelengkan kepalanya.
Assalamu’alaikum
warohmatullahiwabarokatuh
Oke teman-teman
sebelumnya saya meminta maaf atas perlakuan saya
Saya berdiri di
sini hanya untuk menunjukan bahwa saya bukan orang pengecut, pendusta atau
apapun
3 tahun yang
lalu saya sempat berjanji kepada gadis kecil yang hari ini berada di sini untuk
meminangnya jika dia sudah lulus
Terima kasih
atas kepercayaannya untuk bisa menunggumu 3 tahun lamanya
Dan hari ini dia
sudah memenuhi syarat itu
Gadis kecilku
aku mencintaimu setulus hatiku karena allah
Allah lah yang
mempertemukan kita
Kau gadis yang
baik, membawa keceriaan
Qafiya Nurul
Jannah , Will you marry me?
Semua orang
terdiam. Hening tanpa suara.
Ku lihat dia
menatap ku dengan tajam, sungguh jantung ini berdebar dengan kencang, ku tengok
ke arah ayah, ibu dan bang faqih, mereka hanya senyum mengangguk. Badan ini
gemetan, pangeranku kau sungguh berani.
“ ayah
merestuimu nak” teriak ayah.
“ ibu juga
sayang”.
“abang sangat
setuju dek”.
Aku terpaku
dengan persetujuan ini. Mataku berlinang ingin rasanya menangis kebahagiaan.
Qafiya Nurul Jannah
, Will you marry me?.
Perkataan itu
terlontar kembali, seperti ada muka cemas di raut wajahnya. Ku tarik nafas,
berdiri dan menghampiri kak rizky. Aku tau ini semua akan menjadi cerita cinta
yang begitu indah.
Saat aku berada
satu panggung dengannya , ku tatap wajahnya.
“ aku ingin
kisah cinta kita bersemi barokah”.
“jadi...?”
tanyanya.
“i will marry
you”. Kataku senyum.
Semua orang bertepuk
tangan dan begitu ramai. Wajah kami berubah menjadi wajah yang penuh
kebahagiaan. ku lihat raut ayah, ibu , ka faqih sangat ceria dan bahagia dengan
keputusanku. Terima kasih untuk semua, terutama kedua orang tuaku.
Kenangan ini tak
akan pernah aku lupakan . Halal itu indah. Menikah adalah salah satu agar Cinta
Bersemi Barokah.


Comments
Post a Comment